Dilema Pilkada Kotabaru Dan Tanah Bumbu, Serta Hasil Akhir Paslon Tetap

Kotabaru kalimantan selatan dan Tanah bumbu, selalu menyajikan Cerita Menarik ketika terjadi pilkada, sejak di mulainya pemilihan Kepala Daerah langsung, Kotabaru selalu menyajikan cerita yang menarik untuk disimak oleh para petarung politik, dan para penonton, sehingga pemain dan tokoh dibalik layar pun benar benar memainkan strategi dan formasi untuk bisa menyajikan Paslon dan yang dapat memenangkan Pilkada Di Kotabaru maupun Tanah Bumbu. 

Adu strategi juga benar benar terasa hingga adanya tarik ulur kandidat yang akan berpasangan. Tidak sedikit diantara para pendukung sudah adu debat dan bersitegang urat syaraf, dan Akhirnya Paslon nya Gagal berlaga di kompetisi.

Kotabaru dan Tanah Bumbu Selalu lebih rumit dari Kabupaten dan Kota lain di Kalimantan Selatan, entah banyaknya peluang pengelolaan sumber daya alam yang akan tercipta di kotabaru, atau karena peluang jangka panjang untuk sekelompok golongan atau orang, atau memang murni karena ingin memajukan Tarap hidup masyarakat kotabaru, dan membuat kotabaru bisa bersaing di kancah Nasional, Penulis pun belum tau itu.

Sebelumnya, santer terdengar Zairullah Azhar Mencalon dikotabaru, padahal Zairullah sendiri sudah memegang surat rekmendasi untuk berlaga di kotabaru Dari PDIP, yang mana PDIP Bisa Mencalonkan Kandidat Tanpa harus berkoalisi dengan partai lain, dan finalnya, ternyata harus Kembali Ke Tanah Bumbu, padahal mungkin, seandainya Tidak terjadi Pandemi Covid 19 atau Corona, Zairullah sendiri sudah Terdaftar Resmi di KPU sebagai Paslon Untuk Kotabaru. 

Apakah Zairullah membuang kesempatan untuk berlaga dikotabaru?? Atau Memang Menurut Zairullah Tidak ada kesempatan untuk Menang di Kotabaru??? Sehingga dia lebih memilih pulang kampung dan menyia nyiakan Surat Rekomendasi paling berharga dari PDIP?

Selanjutnya Sudian Noor yang sekarang menjabat sebagai Bupati Tanah Bumbu, sebelumnya santer melakukan komunikasi politik ke Kotabaru, mungkin tujuannya untuk sekedar tebar pesona siapa tahu dapat pasangan, atau memang murni hanya sekedar menengok tanah kelahiran, kita juga tidak tahu, Namun sampai saat tulisan ini ditulis, belum ada kepastian apak Sudian Noor akan berlaga pada Pilkada kali ini.

Dan tidak kalah menarik adalah Andi Rudi Latif SH, yang sebelumnya digadang gadang sebagai Calon Wakil Bupati Tanah Bumbu menemani Safrudin Haji Maming, Hari ini tanggal 05 September 2020 Mendaftarkan diri di Kotabaru bersama Sayid Jafar Alaydrus Sebagai Calon Pertahana, yang jadi pertanyaan penulis sebagai Penonton, Permainan apakah yang sedang meraka mainkan, ada peran siapa dalam pertukaran pertukaran calon sebelum dinyatakan bertanding di pilkada?

Apakah Tanah Bumbu Tidak Bagus Menurut Andi Rudi Latif sehingga Dia Meninggalkan Tanah Bumbu, Atau Peluangnya lebih kecil? atau memang ingin memperluas wilayah? sehingga bisa tetap hidup dan cari hidup di dua kota bersaudara ini.? 

Memang kalau membahas Pikada di Dua Kota pesisir kalimantan selatan ini tidak pernah ada habisnya, sengketa politik yang terjadi pun jangka panjang, ada peran pemersatu dan ada peran yang seolah masa bodoh di Kotabaru ini, sehingga sebagian masyarakat sudah bosan dengar ceritanya, mereka hanya menunggu hari pencoblosan saja. 

Sisa sisa sengketa politik 5 tahun yang lalu saja masih bertebaran di media sosial, dan kita harus memulai cerita cerita yang sebenarnya tidak banyak berbeda dari pilkada  yang lalu, hanya saja orang2 nya saja berbeda tapi tokoh dibelakangnya masih sama, pemegang peran kendali masih sama, yang punya cerita masih sama, pemegang strategi masih sama. terus apa yang berbeda dari pilkada yang lalu. 

terus kita sebagai penonton, apakah akan mendapat hasil yang berbeda dari tahun yang lalu? Saya rasa tidak juga, kita akan tetap sama, karena kita hanya penonton di kontestan Pilkada Kota kita tercinta.

Setiap Pilkada, Kotabaru dan Tanah Bumbu selalu memberikan tontonan, cerita dan skenario menarik dan jarang bisa ditebak finalnya. selalu menarik untuk dibahas, bahkan kadang mengalahkan Kota besar di Kalimantan Selatan lainnya, terlebih lagi bahkan ibukota Provinsi nya sekalipun.

Tapi setiap kali pilkada, kita sebagai penonton selalu punya harapan yang sama, belum berubah dari periode ke periode, berharap kota selalu lebih maju, lebih berkembang, mendapatkan pemimpin amanah dan berpihak pada rakyat, harapan yang sama itu selalu terucap dan masih sama di Periode kali ini.

Penulis: Said Abdullah

TTL: Seratak, 30 Januari 1988

Share on Google Plus

About Info Kalimantan Selatan

0 comments:

Posting Komentar