Rabu, 24 Agustus 2016

Untuk Penanganan Karhutla,Semua Kalangan di HST Sepakat Punya Rekening Bersama

Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) termasuk daerah rawan kebakaran lahan dan hutan. Bahkan daerah yang siaga kabut asap tahunan di musim kemarau.
Mengantisipasi munculnya titik api, Polres HST menggelar Focus Group Discussion (FGD)Selasa (22/8/2016). Tujuannya, mengetahui kesiapan semua pihak, khsususnya pemerintah daerah untuk upaya tersebut.
Diskusi yang dipimpin Kapolres HST AKBP Syahril Saharda bersama Dandim 1002 Barabai Letkol Inf Dodit Herry Setiawan itu melibatkan SKPD terkait pemerintah kabupaten, TNI, Balakar 654 Murakata, Tagana, tokoh masyarakat serta kalangan BUMN.
Pada forum tersebut disebutkan, tim Karhutla HST telah membangun posko di halaman Balai Rakyat. Namun, persiapan antisipasi tetap harus dicek.
Kasat Pembinaan Masyarakat (Binmas) AKP CH Pramono menyatakan, ada sejumlah kendala dalam penanganan karhutla. Antara lain belum memadainya fasilitas perlengkapan yang dimiliki daerah, jarak lokasi kebakaran yang sulit dijangkau transportasi, masih terputusnya koordinasi antarinstansi serta belum adanya anggaran khsusus untuk operasional.
Meskipun bisa dianggarkan dari dana desa, namun perwakilan dari Kecamatan Hantakan menjelaskan, belum ada anggaran khusus dana desa tersebut. Demikian pula dari pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah, yang belum punya dana khusus.
Meski demikian, semua pihak sepakat, mengusahakan agar Pemkab dibantu kalangan swasta punya rekening bersama untuk penanganan karhutla.
Selain untuk membeli perlengkapan safety petugas lapangan seperti baju tahan panas, juga untuk biaya operasional. Soal keterlibatan BUMN, Kepala BRI Cabang Barabai, Tri Ichsan Nur, menyatakan pihaknya bisa membantu melalui dana CSR.
Sementara itu, Dandim 1002 Barabai Letkol Inf Dodit Heri Setiawan mengharapkan, agar semua bersikap peduli terhadap bahaya Karhutla.
“Mencegah dan menanggulangi Karhutla urusan semua masyarakat HST, karena dampaknya sangat luas,” kata dandim.
Kapolres HST menambahkan, partisipasi masyarakat yang diharapkan, seperti ikut menyosialisasikan larangan Karhutla, tidak ikut membakar lahan saat musim kemarau, melaporkan secepatnya jika menemukan kahutla, serta ikut mengawasi dan menjaga lingkungan masing-masing dari titik api.
Mengenai peralatan yang dibutuhkan, dandim mengungkapkan, Bupati HST H Abdul Latif telah membeli 10 unit alat khusus pemadam portable di hutan. Adapun kapasitas airnya, 15 liter dengan jangkauan semprotan radius 50 sampai 70 meter.
“Itu untuk yang digendong. Untuk yang dijinjing satu unit. Barangnya sudah tiba dan disimpan di Kodim, tetapi belum diujicoba,”jelas dandim. (han)
Sumber : tribunnews

SHARE THIS

Author:

HABAR BANUA KALIMANTAN SELATAN, TERBAIK DALAM PENYAMPAIAN AKURAT DALAM INFORMASI

0 comments: