Selasa, 24 Mei 2016

Ganti Rugi Lahan Tak Realistis, Warga HST Ngotot Ingin Bertemu Tim Penilai


Puluhan warga dari tiga Desa, yaitu Rangas, Wawai dan Lunjuk, Kecamatan Batangalai Selatan (BAS), Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) mengadu ke DPRD setempat, Senin (23/5/2016).
Mereka mempertanyakan soal ganti rugi lahan yang belum juga kelar. Padahal pembebasan dilakukan pada 2015, untuk keperluan penyelesaian saluran sekunder bendungan Batangalai. Warga keberatan karena taksiran niai ganti rugi mereka nilai tidak realislis.
Seperti disampaikan M Syarifuddin, warga Desa Lunjuk. Seraya memperlihatkan bukti kuitansi pembayaran terhadap lahan milik tetangganya yang seluas 333 meter persegi dan dihargai tim penilai Rp 32. 149.800. Sedangkan lahan miliknya, seluas 698 meter persegi, hanya dihargai Rp 31.162.000.
“Ini kan tidak adil. Lahan saya lebih luas, dan letaknya lebih strategis. Sedangkan lahan milik warga sekampung saya letaknya jauh di dalam, dengan luas separuhnya, harganya lebih mahal. Saya bukannnya tak mendukung pembangunan irigasi. Tetapi atas dasar apa tanah saya ditaksir seperti itu,” ucap Syarifuddin mempertanyakan.
Iwani Rahman, juga dari Desa Lunjuk menyampaikan, ada rumah dengan ukuran luas tanah dan bangunan yang hampir sama, tetapi dihargai secara timpang.
“Masa tanah dengan rumah beratap seng cuma Rp 42,5 juta, sedangkan yang beratap rumbia Rp 80 juta?” sebut dia membandingkan.
Ardiasnyah, juru bicara warga saat menyampaikan aspirasi ke DPRD kemarin menduga, mereka yang bisa melobi, bisa menaikkan harga jual. “Makanya, kami ingin dipertemukan langsung dengan tim penilai independen. Biar jelas, mengapa ada perbedaan harga mencolok, dengan objek yang hampir sama. Berdasarkan apa taksiran tim, biar kami bisa mendapat penjelasan yang objektif,” pinta dia.
Sumber : tribunnews

SHARE THIS

Author:

HABAR BANUA KALIMANTAN SELATAN, TERBAIK DALAM PENYAMPAIAN AKURAT DALAM INFORMASI

0 comments: