Senin, 25 April 2016

Model Hijab Banua, Alumnus Pondok Pesantren

BANJARMASIN - model hijab banua, sekaligus anggota dari Sanggar At-tadib, ternyata pernah beberapa tahun sekolah di pondok pesantren. Hal itu diungkapkannya ketika ditemui Radar Banjarmasin, Rabu (10/2) kemarin, di sela-sela kesibukannya sebagai penyiar di salah satu radio terkenal di Banjarmasin.
Gadis manis yang akrab disapa Elva ini menuturkan, sampai sekarang ia masih teringat bagaimana suasana pondok pesantren tercinta. Mulai dari kebersamaan sampai kepada pelanggaran-pelanggaran yang pernah ia lakukan.
"Aku dulunya terkenal sebagai pelanggar. Dalam sehari saja, bisa dua kali masuk mahkamah pelanggaran," ucapnya seraya tersenyum.
Elva juga menceritakan bahwa pelanggaran yang  sering kali ia lakukan berupa persoalan bahasa dan kebersihan. Ya, menurut gadis yang hobi ngemil makanan ringan ini, di tempatnya mondok, mewajibkan santriwatinya ketika berkomunikasi harus memakai bahasa Arab atau Inggris. Selain itu juga menjunjung tinggi kebersihan lingkungan.
"Kalau sudah melanggar, tegurannya bermacam-macam. Bisa disuruh membersihkan musola, cabutin rumput sampai memakai kerudung dengan warna belang-belang," ungkapnya.
Ketika ditanya pelanggaran apa yang paling berkesan dan seberapa lama ia menjalani teguran akibat perbuatannya, Elva menjelaskan bahwa ia pernah mendapat banyak surat cinta santri putra. Padahal, ia sama sekali tidak pernah menulis surat kepada siapa pun.
"Tiba-tiba saja waktu jalan ke arah dapur pondok, aku dipanggil bibi yang biasa masak. Dia bilang ada titipan, ketika kuambil ternyata surat cinta dan akhirnya ketahuan pihak keamanan pondok yang mengakibatkan aku dapat teguran. Itu sering terjadi," jelasnya terkekeh.
Ia melanjutakan, ketika menjalani hukuman karena teguran tersebut, paling cepat selesai hukuman adalah tiga hari dan paling lama bisa sampai satu minggu.
"Bayangin aja, aku makai kerudung belang-belang yang warnanya pun enggak karuan. Ada biru, merah, hijau stabilo pokoknya kayak es campur. Ketika jalan ke arah kampung penduduk, otomatis jadi pusat perhatian karena kerudung tadi," ungkapnya seraya tertawa.
Meskipun begitu, anak ketiga dari tiga bersaudara ini mengatakan merasa bersyukur dapat mengenyam pendidikan di pesantren. Menurutnya, di sana lah ia belajar banyak hal. Mulai dari mendalami lebih khusus ilmu Agama, sampai membentuk karakter serta rasa percaya diri yang tinggi.
"Di sana, kita diajarkan berbicara di hadapan orang banyak sejak dini. Ditambah lagi, pondok ibarat rumah kedua, kekeluargaannya sangat erat. Sampai sekarang, meskipun hanya tiga tahun pernah di pondok, saya dan kawan-kawan lainnya masih berkomunikasi. Pengalaman di pondok, tidak akan pernah terlupakan sampai kapan pun," pungkasnya. (war/ema)

SHARE THIS

Author:

HABAR BANUA KALIMANTAN SELATAN, TERBAIK DALAM PENYAMPAIAN AKURAT DALAM INFORMASI

0 comments: