Select Menu

Join With Us

wisata kalimantan selatan

Berita Utama

Beriklan Disini

Cute

My Place

Liputan Khusus

Racing

Videos

Masukan Email Anda...

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner



Masukan Email Anda dan Dapatkan Berbagai Diskon Selama Anda Di Kalimantan Selatan
» » » » Lontong Orari, Sejarah Dan Daftar Harganya
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama


Lontong adalah satu di antara banyak kuliner tradisional Indonesia. Banyak daerah di Nusantara ini memilikinya dengan variasi masing-masing.

Di Kalimantan Selatan juga ada lontong, namun memiliki banyak perbedaan dengan lontong-lontong dari daerah lainnya sehingga menjadi ciri khas tersendiri. Tak jelas juga sejak kapan kuliner khas orang Banjar tersebut mulai ada di Bumi Lambung Mangkurat ini, namun yang pasti, kuliner ini selalu ada tiap hari baik sebagai menu sarapan, makan siang atau makan malam orang Banjar.

Makanan ini berkuah santan dengan lauk berupa ikan gabus, telur atau ayam yang dimasak habang. Dibubuhi pula oleh taburan bawang goreng dan sayur nangka rebus, membuat rasanya kian nikmat. Ada perpaduan rasa gurihnya santan, kenyalnya lontong dan manisnya masak habang.
Di Banjarmasin banyak warung atau rumah makan yang menjualnya. Di antaranya adalah Rumah Makan Lontong Orari di Jalan Simpang Sungai Mesa (Kabel) nomor 12 RT 18, Kelurahan Seberang Masjid, Kecamatan Banjarmasin Utara, Kota Banjarmasin.

Lontong khas Banjar di sini tergolong spesial dan terkenal sejak 1983. Lontongnya dikenal karena porsinya yang besar, ukuran lontongnya hampir dua kali lipat ukuran lontong Banjar pada umumnya dan seporsinya disajikan sepasang atau dua biji. Bentuknya segitiga. Selain itu, cita rasa gurih, manis dan keempukan sayurannya juga pas di lidah.

Tak heran jika kemudian lontong orari ini banyak disukai warga lokal maupun wisatawan. Apalagi, waktu beroperasinya lama, yaitu dari pagi hingga dini hari. Tepatnya dari pukul 10.00 Wita hingga 03.00 Wita. Di saat bulan puasa seperti ini, rumah makan ini ramai dikunjungi tamu saat malam.

Dulu, rumah makan ini beroperasi 24 jam, namun sejak dua tahun lalu tidak lagi karena keterbatasan tenaga karyawannya. Walau begitu, pemiliknya, Sofia, tetap membukanya hingga dini hari karena pengunjungnya selalu ramai tiap hari bahkan hingga menjelang subuh selalu banyak yang datang ke warungnya ini karena penasaran dengan kelezatan lontong Banjar olahannya.

Rumah makannya ini dulu hanya berupa warung kecil saat didirikan pada 1983 silam. Lokasinya pun tidak di tempat yang sekarang, tetapi di dekat jalan masuk ke Jalan Simpang Sungai Mesa ini. Sementara lokasi yang sekarang adalah rumah orangtuanya yang posisinya agak masuk sedikit dari mulut jalan. Waktu itu penjualnya adalah ibunya dan sekarang karena sang ibu sudah tua tak sanggup lagi berjualan, maka dia yang meneruskan usaha ini.

"Dulu nggak ada namanya warung ini. Orang-orang sering bilang warung lontong mak haji karena ibu saya kan sudah haji. Nama Lontong Orari itu yang memberikan adalah para tamu dan warga di sini," ceritanya.

Dulu, di warung lontongnya ini pada awal didirikan, sering menjadi tempat kongkow para anggota komunitas pecinta alat komunikasi orari. Sambil makan lontongnya dan mengobrol, tempat ini hampir tiap hari dijadikan markas komunitas ini.
Bahkan, saat warungnya sudah tutup mereka ini tetap mencari lontongnya ke rumahnya yang tak jauh dari warungnya. Karena kasihan dan saking besarnya animo warga yang ingin menikmati kelezatan lontong buatan ibunya, maka dibuka juga rumah makan di rumah orangtuanya ini. Makannya pun lesehan dan hingga sekarang juga masih demikian. Walau komunitas orari itu sekarang sudah tak ada, namun para anggotanya masih sering makan di sini.

"Bahkan sampai malam banyak yang datang ke rumah ibu saya ini cuma buat makan lontong buatan ibu saya. Akhirnya, kami putuskan untuk membukanya di rumah saja dan buka 24 jam, tetapi sekarang cuma sampai pukul 03.00 Wita," katanya.

Hingga sekarang, rumah makan ini selalu ramai. Pihaknya tidak membuka cabang di tempat lain.
Banyak warga Kalimantan Selatan bahkan wisatawan memenuhi rumah makan ini tiap harinya. Bahkan tempat ini juga menjadi destinasi wisata kuliner favorit para pejabat seperti bupati, menteri seperti mantan Menteri Negara Lingkungan Hidup yang juga mantan Menteri Riset dan Teknologi, Gusti M Hatta hingga para pesohor yang sedang berkunjung ke Banjarmasin seperti grup band Andra & The Backbone, Noah, binaragawan Ade Rai, dan sebagainya. Bahkan para ustad terkenal juga pernah makan di sini seperti Ustad Maulana dan Ustad Arifin Ilham.

Para pengunjungnya, khususnya wisatawan dari luar Kalimantan Selatan menjadikan tempat makan ini sebagai tujuan wisata kuliner karena menjual makanan khas tradisional Banjar yang tentunya ingin mereka cicipi jika kemari. Di antaranya adalah Nyonya Angki dari Jakarta yang mengaku takjub dengan rasanya.

Menurutnya, lontong dimana-mana ada di Nusantara ini, namun lontong khas Banjar ini menyajikan cita rasa yang jauh berbeda sehingga memiliki keunikan tersendiri. "Di Jakarta ada lontong sayur, tetapi kok rasanya beda banget dengan lontong khas Banjar ini. Sama-sama lontong tetapi cita rasanya beda banget. Mulai dari kegurihan kuah santannya, sayur nangkanya empuk dan cara memasak ikannya juga beda, benar-benar terasa tradisional Banjarnya," ujarnya.

Pengunjung lainnya, Andi dari Jakarta mengaku sudah beberapa kali ke rumah makan ini. Satu hal yang membuatnya ketagihan makan lontong Banjar di sini karena di sini menyajikan kuliner lontong khas Banjar dalam porsi yang besar.

"Saya paling suka dengan suguhan cita rasa tradisionalnya itu. Benar-benar khas Banjar," ucapnya.

Usut punya usut, ternyata pemilik rumah makan ini memasaknya dengan cara khusus dan masih tradisional. Sofia dan para karyawannya tidak memasaknya dengan kompor gas tetapi dengan kompor minyak untuk menjaga kelezatan cita rasanya.

Dulu, waktu rumah makan ini masih dikelola ibunya, memasak lontongnya masih dengan cara tradisional yaitu dengan tungku. Namun karena tungkunya sudah rusak akhirnya diganti dengan kompor minyak.
"Ibu saya tidak suka memasaknya dengan kompor gas karena lontongnya cepat masak tetapi cepat juga basinya, sehingga kelezatan cita rasanya kurang mantap. Kalau dengan kompor minyak justru kelezatannya tahan lama," bebernya.

Untuk menciptakan cita rasa yang lezat, lontong ini dimasaknya selama tujuh jam. Dalam sehari, dia bisa menghabiskan ikan gabus sebanyak 50-60 kilogram, telur 600 biji, ayam 30 ekor dan lontong 1000 biji jika sedang ramai dan 500 biji jika sedang sepi. Artinya, dalam sehari dia bisa menjual antara 250 hingga 500 porsi lontong.

Seporsi lontong ini dijualnya Rp 30.000 jika lauknya ayam plus telur, Rp 45.000 jika lauknya ayam plus ikan gabus dan Rp 50.000 jika lauknya ayam, ikan gabus dan telur.
Harga yang cukup pantas jika mengingat porsinya yang besar, kuahnya penuh, lauknya banyak dan besar serta lontongnya disajikan dua biji dengan ukuran yang besar-besar pula.

Lokasi rumah makan ini mudah saja dicari karena posisinya di pusat Kota Banjarmasin. Apalagi jika menyebut namanya, pasti orang-orang akan mudah menunjukkan jalannya jika wisatawan yang senang berwisata kuliner ingin mencicipi lontong khas Banjar ini. Menuju kemari, bisa menggunakan becak, ojek atau bajaj kecuali angkutan kota karena jalan ini tidak dilewati angkutan umum tersebut.

Admin Info Seputar Kalimantan Selatan

Kami adalah StartUp Digital Berbasis Informasi Daerah yang akan terus kami Update dan Kami kembangkan Segala Jenis Informasinya, Sehingga akan selalu berkembang dari segi informasi dan keterbukaan Publik, Sehingga kami dengan leluasa bisa berbagi Informasi Tentang Semua Yang Ada Di Kalimantan Selatan, Karena Motto Kami "Semakin Mudah Suatu Daerah Diakses, Maka Akan semakin cepat Perkembannya" Dan Kami Akan Terus Berbenah.
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar

Leave a Reply